LEKAT DENGAN WARNANYA yang kuning dan aromanya yang khas,
kunyit adalah salah satu bumbu dapur yang sering dipakai dalam berbagai
masakan, khususnya di Asia. Komponen dalam kunyit yang disebut sebagai kurkumin,
merupakan substansi utama yang membentuk kunyit dan memberi warna kuning.
Namun, kurkumin jugalah yang memberikan manfaat kunyit dalam menjaga
kesehatan dan mencegah penyakit.
Sejak dahulu kala, banyak
praktisi kesehatan menggunakan kunyit untuk mengatasi penyakit kulit,
pernapasan, pencernaan, luka, bahkan hingga penyakit pada liver. Kecanggihan
teknologi belakangan ini kemudian membuktikan bahwa yang berperan besar dalam
menyembuhkan penyakit-penyakit tersebut ternyata adalah kurkumin.
Berdasarkan penelitian, kurkumin bersifat antioksidan, anti-inflamatori,
anti kanker, serta bersifat melindungi sistem saraf.
Anti-inflamasi
Inflamasi merupakan
proses penting yang terjadi dalam tubuh. Saat ada bagian tubuh yang terluka,
maka proses inflamasi akan terjadi sebagai bentuk perlawanan terhadap benda
asing dari luar yang masuk seperti bakteri. Tanpa proses inflamasi, patogen
dari luar akan dengan mudah masuk ke dalam tubuh kita dan merusak sel-sel
tubuh. Inflamasi jenis ini disebut sebagi inflamasi jangka pendek atau akut.
Masalah terjadi ketika inflamasi yang terjadi adalah inflamasi jangka panjang
atau kronis yang kemudian malah dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan dan
menyebar ke seluruh tubuh. Ini dapat menimbulkan berbagai penyakit degeneratif seperti
misalnya penyakit Jantung, Stroke, Sindrom Metabolik, Kanker, hingga Alzheimer.
Kurkumin bersifat anti-inflamasi yang kuat,
sehingga dihubungkan dengan pencegahan penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh
adanya inflamasi. Kurkumin bekerja dengan cara menghambat NF-kB, sebuah
molekul yang bekerja pada inti sel dan memicu munculnya gen yang menyebabkan
inflamasi. Kurkumin dinilai dapat bekerja hingga tahap molekuler
sehingga potensinya dalam mengurangi inflamasi disejajarkan dengan obat anti-inflamasi
tetapi minim efek samping.
Anti-oksidan
Selain inflamasi,
radikal bebas juga dipercaya dapat menyebabkan kerusakan sel dan
jaringan tubuh sehingga menyebabkan penyakit. Radikal bebas bersifat sangat
reaktif dan cenderung menyerang substansi-substansi penting seperti asam lemak,
protein, dan DNA. Penangkal radikal bebas adalah anti-oksidan. Kurkumin
bersifat anti-oksidan kuat yang dapat menetralisir sifat reaktif radikal bebas.
Kesehatan Sistem Saraf
Salah satu hormon yang
bekerja dalam proses pembentukan koneksi-koneksi baru di otak adalah Brain-Derived
Neurotrophic Factor (BDNF). Beberapa penyakit yang berhubungan dengan otak
seperti misalnya Depresi dan Alzheimer biasanya dihubungkan
dengan penurunan dari kadar hormon tersebut. Kurkumin dapat meningkatkan
kadar BDNF dalam otak sehingga efektif dalam mencegah penyakit-penyakit yang
berhubungan dengan otak atau penurunan fungsi otak akibat penuaan. Dan, kurkumin
dapat membantu meningkatkan memori karena efeknya terhadap peningkatan BDNF.
Penyakit Jantung
Peran kunyit terhadap
penyakit jantung dikarenakan efeknya terhadap inflamasi dan radikal bebas. Dan,
kurkumin juga berperan dalam meningkatkan kerja endotelium yang melapisi
pembuluh darah. Disfungsi kerja endotelial merupakan salah satu penyebab utama
penyakit jantung karena mempengaruhi kemampuan endotelium untuk meregulasi
tekanan darah, mencegah penggumpalan darah, dan fungsi-fungsi lain yang penting
bagi kesehatan jantung. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa kurkumin bekerja
secara efektif, sama efektifnya dengan berolahraga dan konsumsi obat.
Mencegah Kanker
Kurkumin dapat mempengaruhi pertumbuhan
kanker dengan cara bekerja di level molekuler. Suatu studi pernah dilakukan
terhadap 44 orang pria yang memiliki lesi di kolon, lesi ini biasanya akan
berubah menjadi kanker di kemudian hari. Selama penelitian, subjek diharuskan
mengonsumsi 4 gram kurkumin per hari. Setelah 30 hari lesi pada kolon berkurang
hingga 40 persen. Penelitian lain menunjukkan bahwa kurkumin mengurangi
angiogenesis (pertumbuhan pembuluh darah baru pada sel tumor), mencegah
metastasis (penyebaran kanker), hingga berkontribusi terhadap kematian sel
kanker. ***